PERKEMBANGAN KOTA
Teori Central Place dan Urban Base merupakan teori mengenai perkembangan kota yang paling populer dalam menjelaskan perkembangan kota-kota. Menurut teori central place seperti yang dikemukakan oleh Istilah perkembangan kota (urban development) dapat diartikan sebagai suatu perubahan menyeluruh, yaitu yang menyangkut segala perubahan di dalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan social ekonomi, social budaya, maupun perubahan fisik (Hendarto,
1997). Pertumbuhan dan perkembangan kota pada prisipnya
menggambarkan proses berkembangnya suatu kota. Pertumbuhan kota mengacu pada pengertian secara kuantitas, yang dalam hal ini diindikasikan oleh besaran faktor produksi yang dipergunakan oleh sistem ekonomi kota tersebut. Semakin besar produksi berarti ada peningkatan permintaan yang meningkat. Sedangkan perkembangan kota mengacu pada kualitas, yaitu proses menuju suatu keadaan yang bersifat pematangan. Indikasi ini dapat dilihat pada struktur kegiatan perekonomian dari primer kesekunder atau tersier. Secara umum kota akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan melalui keterlibatan aktivitas sumber daya manusia berupa peningkatan jumlah penduduk dan sumber daya alam dalam kota yang bersangkutan (Hendarto, 1997).
Pada
umumya terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kota, yaitu:
a. Faktor
penduduk, yaitu adanya pertambahan penduduk baik disebabkan karena pertambahan
alami maupun karena migrasi.
b. Faktor
sosial ekonomi, yaitu perkembangan
kegiatan usaha masyarakat
c. Faktor
sosial budaya, yaitu adanya perubahan
pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh luar, komunikasi dan Christaller
(dalam Daldjoeni, 1992), suatu kota berkembang sebagai akibat dari fungsinya dalam menyediakan barang dan jasa untuk daerah sekitarnya
Teori Urban Base juga menganggap bahwa perkembangan kota
ditimbulkan dari fungsinya dalam menyediakan barang kepada daerah sekitarnya juga seluruh daerah di luar batas-batas kota tersebut. Menurut teori ini, perkembangan ekspor akan secara langsung mengembangkan
pendapatan kota. Disamping itu, hal tersebut akan menimbulkan pula perkembangan industri-industri yang menyediakan bahan mentah dan jasa-jasa untuk industri-industri yang
memproduksi barang ekspor yang selanjutnya akan mendorong pertambahan pendapatan kota lebih lanjut (Hendarto, 1997).
BENTUK KOTA
Menurut Conzen dalam Birkhamshaw, Alex J and
Whitehand (2012), morfologi kota memiliki tiga komponen yaitu Ground Plan (pola
jalan, blok bangunan), bentuk bangunan (tipe bangunan) dan utilitas
lahan/bangunan. Bentuk-bentuk kota dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu
bentang alam atau geografis, transportasi, sosial, ekonomi dan regulasi.
Analisa bentuk kota meliputi:
a. Bentuk-bentuk
kompak Terdiri atas bentuk
bujur sangkar (the square cities), bentuk empat persegi panjang (the rectangular cities), bentuk kipas (fan shaped cities), bentuk bulat (rounded cities), bentuk pita
(ribbon shaped cities), bentuk gurita atau bintang (octopus/star shaped
cities), bentuk tidak berpola (unpatterned cities).
b. Bentuk-bentuk
tidak kompak Terdiri atas bentuk terpecah (fragmented cities), bentuk berantai
(chained cities), bentuk terbelah (split cities), bentuk stellar (stellar
cities).
Gambar Bentuk-bentuk kota
Sumber:
Hadi Sabari Yunus (2000)
PERKEMBANGAN MORFOLOGI KOTA BONDOWOSO
Perkembangan
kota bondowoso, ditinjau dari aspek penggunaan lahanya kota bondowoso rata- rata penggunaan lahannya yaitu dari
awal dari sektor perkebunan dan pertanian yang melimpah seperti perkebunan
kopi, perkebunan singkong, tanam padi dll yang mendukung percepatan pembangunan
di kota bondowoso. Sesuai visi Kabupaten Bondowoso yaitu Mewujudkan Kabupaten
Bondowoso Sebagai Kawasan Agribisnis yang Maju, religius, Adil dan Makmur
(RPJPD Kab.Bondowoso 2005-2025. Sementara perkembangan fisik kota Bondowoso, Menurut
Spiro Kostof (1991), perkembangan kota dibedakan mejadi 2 kategori, yaitu
planned dan unplanned. Bondowoso merupakan salah satu kota yang memiliki
perkembangan kota secara planned, hal ini dilihat dari letak pusat kota yang
jelas, yaitu berada di area alun-alun dan sekitarnya. Jika dilihat dari pola
jaringan jalan bondowos, bondowoso jaringan jalan yaitu pola jaringan jalan
grid di karenakan jalur utama jaringan jalan bondowoso lurus dan rute-rute
pararel dengan interval yang terartur dan bersilangan dengan kelompok rute-rute
yang lainnya mempunyai karakteristik sama, yang dimana pola ini pola jaringan
yang di rencanakan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini mengenai
jaringan jalan di kota bondowoso.
Gambar Peta Jaringan Jalan Kota Bondowoso
Melihat dari
aksesibilitas jalan yang terencana, akan berdampak pada perkembangan penduduk
karena ekspansi kota mengikuti jalur transportasi (Hoyt, 1998). Hal ini dapat
di lihat pada gambar di bawaah ini mengenan perkembangan penduduk bondowoso
dari tahun 2007-2018.
Sebelah kanan peta 2007 dan Sebalah kiri peta 2018
Dilihat
dari gambar diatas telah menunjukan perkembangan penduduk Kota Bondowoso yang
dimana semakin meluas. Tepatnya di jalan Letjen Karsono No.1 dapat dilihat
bahwa terjadinya perkembangan penduduk, hal ini dikarenakan letaknya yang
strategis dekat dengan pusat kota dan harga lahan tersebut sangat mahal karena
lahan tersebut dekat dengan pusat Kota Bondowoso.
BENTUK MORFOLOGI KOTA BONDOWOSO
Pembentukan morfologi kota melalui
proses yang sangat panjang dan terus mangalami perkembangannya dari waktu ke
waktu. Setiap perubahan fisik kawasan memiliki arti serta manfaat yang sangat
berharga bagi penanganan perkembangan suatu kawasan kota.
Kota Bondowoso merupakan kota
yang memiliki bentuk kota seperti gurita, hal ini karenakan hal ini dapat
dilihat dari bentuk daerah perkembangannya yang berasal dari gabungan bentuk /
pola pita yang meluas sehingga berbentuk seperti gurita.
Peta citra Bondowoso dan Bentuk pola Gurita
ELEMEN-ELEMEN PEMBENTUK KOTA BONDOWOSO
Elemen-elemen pembentuk Kota Bondowoso
yaitu Tataguna Lahan, Bentuk dan Kelompok Bangunan, Ruang terbuka, Parkir dan
srikulasi, dan Penandaan( landmark). Yang akan dijabarkan di bawah ini :
A.Tata Guna lahan
Penggunaan lahan dalam suatu wilyah dapat
menggambarkan suatu aktivitas penduduk yang ada di wilayah tersebut dan
dominasi penggunaan lahan di suatu kawasan akan memberikan fungsi tertentu pada
kawasan tersebut. Pola penggunaan lahan pada umumnya di bagi menjadi dua
kelompok yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Lahan terbangun
meliputi permukiman, perkantoran/bangunan dan fasilitas umum. Sedangkan untuk
lahan tidak terbangun meliputi sawah, tegalan, kolam dan perkebunan.
Penggunaan
lahan yang mendominasi di kota bondowoso yaitu lahan tidak terbangunannya yang
dimana lahan tersebut meliputi sawah seluas 323,56 km2 atau 20,74% luas
wilayah, tegalan 432,77 km2 atau 27,74% dari luas wilayah dan perkebunan 88,61
km2 atau 5,68% luas wilayah. Untuk permukiman dan lainnya
83,61 km2 atau 4,67% luas wilayah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
peta di bawah ini.
Peta Daerah terbangun Kota Bondowoso
Untuk Struktur tata ruang kota yang berhubungan erat dengan
guna lahan kotanya yaitu Kota Bondowoso memiliki tata ruangg kota Teori
Konsentrisnya yang dikemukakan EW.Burks. Yang dimana CBDnya berada di tengah
pusat kota Bondowoso yang dimana pusat kotanya adalah alun-alun kota Bondowoso.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Peta
Kondisi Existing
B. Bentuk dan Kelompok Bangunan
Sejarah yang
dialami oleh sebuah kota menimbulkan tipologi yang berbeda dari kota-kota
lainnya. Seperti Kota Bondowoso yang memiliki corak bangunan colonial karena
adanya sejarah dengan Pemerintahan Belanda. Bangunan-bangunan colonial /
bangunan peninggalan belanda masih ada dan dijaga sebagai sumber historis
sebuah kawasan. lokasi yang masih memiliki sense bangunan dengan corak
kolonialisme peninggalan belanda yang ada di kota bondowoso adalah stasiun
kereta api yang berada di jalan iman bonjol Bondowoso yang sekarang telah
menjadi museum kerata api Bondowoso, Gerdu penurun tegangan listrik peninggalan
Belanda di Jalan Ahmad Yani masih terjaga kelestariannya, Dan Bangunan Kalisat
Jampit Bondowoso yang di kelilingi perkebunan Kopi, bangunan kalisat jampit
merupakan rumah peninggalan colonial belanda dan bangunan lainnya peninggalan
colonial belanda seperti kantor bank jatim yang dulunya kantor Bupati Bondowoso
lokasinya di jalan Letjen Karsono No.1 dan juga lapas klas II Bondowoso yang
lokasinya di jalan Jaksa Agung Suprapto No.5
Bondowoso.
Gambar Bangunan peninggalan klonial Belanda
C. Ruang Terbuka
Ruang
Terbuka di Bondowoso ( Alun-alun Kota
Bondowoso)
D. Parkir dan sirkulasi
Sirkulasi
merupakan salah satu elemen yang dapat mengontrol pola kegiatan kota. Elemen lain
yang erat kaitannya dengan sirkulasi adalam area parkir. Sehingga dalam
perancangan sebuah kota sebaiknya memiliki tempat parkir yang tidak mengganggu
jalannya kegiatan disekitar kawasan. Kota Bondowoso memiliki area parkir yang
baik namun di pusat kotanya bondowoso yaitu tepatnya di alun-alun kota
bondowoso masih banyak pengendara bermotor yang parker di tepi pedestrian
alun-alun kota Bondowoso, Yang mengakibatkan kemacetan akibat pengalihan guna
jalan sebagai tempat parkir.
Contoh
Sirkulasi dan parkir Kota Bondowoso
E. Penandaan (Lanmark)
Penandaan
(Landmark) biasanya merupakan benda fisik yang didefinisikan dengan sederhana
seperti: bangunan, tanda, toko, atau pegunungan. Beberapa landmark adalah
landmark-landmark jauh, dapat terlihat dari banyak sudut dan jarak, atas
puncak-puncak dari elemen yang lebih kecil, dan digunakan sebagai acuan
orintasi. Kota Bondowoso sendiri memiliki beberapa tanda sebagai pengenal kota
yaitu Alun-alun Kota Bondowoso, Monumen Gerbong Maut, Tugu Kembang Kademangan,
Dan Tugu adiputra Bondowoso dan paparannya di bawah ini:
a.
Alun-alun Kota Bondowoso
Alun
Alun Bondowso ini memiliki bentuk yang cukup umum seperti alun alun pada
umumnya. Dengan sisi sisi nya yang dikelilingi LAPAS, Masjid, Pendopo dan
Kantor Bupati. Desain ini sudah dikenal sejak jaman belanda sehingga daya tarik
alun alun selalu menjadi pusat kasan untuk titik kumpul di suatu perkotaan.
Alun-alun Bondowoso
b. Monumen Gerbong Maut
Monumen Gerbong Maut sebenarnya tidak
memiliki tanda atau arahan untuk menuju kesana. Namun karena bentuk yang
berbeda dengan yang lainnya dan juga keunikan dan kekhasan yang mengukir pada
Monumen ini sebenarnya yang dapat diingat oleh masyarakat
Monumen Gerbong MautDesain
c. Tugu Kembang Kademangan
Tugu ini menyerupai Bunga yang mekar Dengan Warna Jingga pada pilarnya dan
Kelopak Bunga berwarna Hijau. Tugu ini tidak terlalu memiliki bentuk dan visual
terlalu kuat, tetapi tugu ini merupakan persimpangan dari dua arah yaitu arah
kota dan arah utara (Situbondo, Banyuwangi, dll) yang disatukan menuju jalan
Imam Bonjol menuju arah Jember. Sehingga tugu ini merupakan titik pertemuan
yang mendukung bentuk Tugu Kembang Kademangan.
Tugu Kembang kademangan
d.Tugu adiputra Bondowoso
Tugu Adipura ini merupakan pintu
masuk menuju kota Bondowoso dari arah Selatan (Jember,Lumajang,dll). Tugu
berbentuk bagai piagam untuk kota Bondowoso atas pencapainnya menjadi kota
dengan berwawasan Lingkungan. Tugu ini sangat mudah diingat bagi seseorang yang
baru masuk kota bondowoso karena tugu ini adalah persimpangan dari berbagai
arah sehingga seseoranga jika ingin keluar masuk kota bondowoso, khususnya
lewat selatan akan bertemu
tugu ini.
Tugu adiputra Bondowoso
Di Bawah ini akan saya sajikan 2 video tentang Kota Bondowoso dan vidio Kota Bondowoso menggunakan Google earth :
Sumber dari youtube https://www.youtube.com/watch?v=bAUm6CHrODI&t=37s
Sumber dari Google Earth
Kesimpulan
Perkembangan Morfologi Kota
Bondowoso yaitu ditinjau dari aspek penggunaan lahanya dan jaringan jalannya.
yaitu pola jaringan jalan grid di karenakan jalur utama jaringan jalan
bondowoso lurus dan rute-rute pararel dengan interval yang terartur dan
bersilangan dengan kelompok rute-rute yang lainnya mempunyai karakteristik
sama, yang dimana pola ini pola jaringan yang di rencanakan. Sementar dari
bentuk Morfologi Kotanya, Bondowoso bentuk morfologi kotanya adalah seperti
gurita di karenakan daerah perkembangannya yang berasal dari gabungan bentuk/pola pita yang meluas sehingga berbentuk seperti gurita.
Elemen-elemen pembentuk Kota Bondowoso
yaitu Tataguna Lahan, Bentuk dan Kelompok Bangunan, Ruang terbuka, Parkir dan
srikulasi, dan Penandaan(landmark). Penggunaan lahan yang mendominasi di kota
bondowoso yaitu lahan tidak terbangunannya yang dimana lahan tersebut meliputi
sawah, tegalan dan perkebunan. Untuk Struktur tata ruang kota yang berhubungan
erat dengan guna lahan kotanya yaitu Kota Bondowoso memiliki tata ruang kota
Teori Konsentris Yang dimana CBDnya berada di tengah pusat kota Bondowoso.
#Mohon maaf bila ada kekurangan penjelasan, Terimakasih Semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar